Jerit Hati Pengamen Tunanetra soal Kerasnya Ibu Kota

Menjadi penyandang disabilitas memang tak mudah. Beberapa fasilitas umum yang tersedia jarang yang ramah disabilitas. Begitu juga yang dirasakan oleh Awang (45), salah satu pengamen tuna netra yang kerap mengamen di kota Tangerang mengungkapkan kesulitannya selama mengamen di keramaian.

“Susahnya gak bisa kemana-mana sendiri. Harus ada yang nemenin. Soalnya akses buat jalan susah” ujarnya.

Akses transportasi pun kerap jadi kendala. Terlebih lagi di jam sibuk kantor seperti pagi dan sore hari. Iwang mengaku hal tersebut memang menjadi kendala paling besar bagi tuna netra seperti dirinya. Meskipun ada petugas yang kerap membantunya, namun berada di tengah keramaian seperti itu membuatnya harus tetap dekat dengan sang istri, jangan sampai terpisah apalagi hilang.

“Kalau naik kereta sih yang berat, awal-awal dulu kesusahan banget. Sekarang sudah mulai terbiasa, petugas kereta juga sering bantu” jelasnya.

Terkait razia oleh petugas, Iwang mengaku bahwa dirinya belum pernah digiring oleh petugas Satpol PP. Dirinya beranggapan, selama tidak mengganggu ketertiban dan mengamen di tempat yang diizinkan maka keberadaannya tidak akan menjadi masalah.

“Razia belum pernah kena sih. Ya jangan sampai lah, lagian kan saya juga ngamennya bukan di tempat yang dilarang” ujarnya.

Keberadaan pengamen tuna netra di keramaian rupanya tidak terlalu dipusingkan oleh warga sekitar, Azizah (20) salah satu warga Kota Tangerang mengungkapkan bahwa hal tersebut bukan suatu gangguan. Keberadaan mereka di tengah masyarakat bukan sesuatu yang mengganggu.

“Gak ganggu sih, selama mereka ngamen dan tidak memaksa. Yang mengganggu itu justru yang memaksa diberi uang” jelasnya.

Senada dengan pengakuan Azizah, hal yang sama diungkapkan oleh Arief (25) yang mengaku tak segan memberi uang pada pengamen tuna netra. Sebab menurutnya, rata-rata dari mereka memiliki suara yang bagus. Mereka juga benar-benar bernyanyi dan menghibur.

“Kalau saya sering sih ngasih uang ke mereka, karena mereka itu beneran nyanyi. Banyak pengamen lain yang hanya mengandalkan suara musik dari speaker dan minta uangnya maksa” jelasnya.

Iwang hanyalah salah satu dari sekian banyak penyandang tuna netra yang memilih menjadi pengamen untuk mencari nafkah. Mereka berjuang untuk tetap bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota. Lewat mengamen inilah mereka bisa memberi makan keluarganya, bahkan menyekolahkan anak-anak. Keterbatasan lapangan pekerjaan juga menjadi salah satu alasan mengapa mereka memilih untuk bekerja di jalanan.

Iwang sendiri tak ingin selamanya menjadi pengamen. Suatu hari nanti dia juga ingin mendapat pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.

“Saya juga gak mau begini terus, kalau ada kesempatan saya mau nyoba hal lain supaya hidup saya dan keluarga jadi lebih baik lagi” tutupnya.