New Normal : Disrupsi yang Dipercepat

Rasanya kita memang harus mengucapkan terima kasih banyak pada disrupsi yang sudah mulai terjadi dan –untungnya– mulai disadari sebelum pandemi Covid-19 bertandang. Disrupsi teknologi, disrupsi digitalisasi pola transaksi, disrupsi metode edukasi dan diskusi, disrupsi bidang transportasi, hingga disrupsi atas gaya hidup pribadi.

Bisa dibayangkan betapa kesulitannya kita hari ini jika kita belum terbiasa menyesuaikan diri dengan perubahan demi perubahan sebagai dampak disrupsi prapandemi. Kita tak kenal cara membeli barang viae-commerce. Ketika harus banyak berdiam di rumah (stay at home), kita belum familier dengan kepraktisan memenuhi kebutuhan dasar makan dan minum via aplikasi pesan-antar. Bayangkan pula bagaimana kita harus melakukan proses jual beli jika fitur perbankan tak semakin variatif menyediakan cara bertransaksi secara cashless.

Bayangkan juga hari ini. Bagaimana anak-anak kita bisa tetap belajar di bawah bimbingan para guru dan kita yang bekerja bisa melakukan work from home serta diskusi jarak jauh dengan tim jika belum ada yang mengenalkan kita pada revolusi metode komunikasi banyak arah seperti Zoom Meeting, Google Meet, Microsoft Teams, Cisco Webex, atau minimal Skype. Aplikasi WhatsApp-call yang semula hanya bisa untuk dua arah segera saja meng-upgrade fiturnya untuk bisa digunakan untuk banyak orang sekaligus begitu pandemi datang.

Maka, rasanya kita harus berterima kasih banyak pada para founder aplikasi, decacorn, unicorn maupun calon unicorn yang pada awal kemunculannya “rela di-bully“ karena dianggap berpotensi mematikan pelaku usaha existing, serta sempat diprotesi gegara dinilai tak nasionalis dan cinta negeri. Merekalah yang pada awalnya disebut “pengganggu” (disruptor), padahal merekalah pendobrak kesadaran dan pemaksa perubahan karena mereka menjadi pihak yang lebih dulu sadar bahwa perubahan dunia ini akan mengalami akselerasi.

Lalu, bagaimana dengan kecintaan pada negeri, juga kepedulian pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang lebih dulu lahir? Terbukti, mereka merangkul semua itu untuk bisa bersama menyadari, perubahan teknologi harus diakrabi, dan bukan dihindari. Mereka cenderung mewadahi. Bukan menyaingi.

Memang selalu ada konsekuensi bagi para pelaku usaha yang selama ini berbisnis secara konvensional: harus belajar teknologi terkini, belajar cara baru berpromosi, belajar sistem baru jual beli, dan sebagainya. Belajarnya pun harus setiap hari karena memang teknologinya berkembang cepat sekali. Ada juga konsekuensi investasi: harus melakukan pengadaan (baca : membeli) perangkat komunikasi yang andal dan responsif, berikut belanja kuota dari para provider telekomunikasi.

Hari ini kita juga harus banyak berterima kasih pada pelaku usaha, penyedia barang dan jasa yang pada akhirnya bersedia bertransformasi. Yang pada akhirnya mau “berdamai” dengan disrupsi. Apalah artinya penyedia aplikasi jika tak ada pelaku ekonomi yang bersedia menjadi bagian solutif dari disrupsi. Sekali lagi, disrupsi merupakan hal yang tak terelakkan lagi. Bukan semata karena pandemi. Kita tertendang atau mari berkompromi dan menyesuaikan diri.

Kesadaran berubah pelaku ekonomi di negeri ini mungkin agak terlambat. Tapi, rasanya tak ada yang lebih baik dibanding kemauan mereka untuk pada akhirnya mengikuti dan mengamini. Lebih bagus lagi jika setelah sadar, mereka justru bisa menjadi sutradara perubahan dengan berkontribusi pada ide pengembangan dan perubahan yang lebih memudahkan. Bukan sekadar menjadi eksekutor di lapangan. Karena dalam era apa pun sejak zaman baheula hingga modern ini, rumus bahwa siapa yang responsif terhadap perubahan dan bisa menjadi pencipta kebaruan perubahan, ia akan menjadi pemimpin di sebuah sektor aktivitasnya, termasuk sektor ekonomi.

Kesadaran yang Dipercepat

Maka, momentum pandemi ini semestinya semakin membuka mata kita bahwa benar kata adagium: tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Artinya, perubahan itu akan selalu ada dan menjadi tuntutan hidup sepanjang masa. Hanya, secepat apa perubahan terjadi, semendesak apa “revolusi” harus mewujud, itu yang harus diantisipasi.

Pandemi Covid-19 merupakan disruptor yang sama sekali tak diduga kehadirannya. Selama ini kita menganggap pesatnya kemajuan teknologi dan kehadiran generasi milenial (generasi langgas) yang kreatif dan cenderung memilih pola simple-leisury-freedom life(praktis-santai-bebas) sebagai disruptor utama bagi perubahan pola kebutuhan ekonomi. Maka, kita lantas terhentak dan tampak sangat tidak siap ketika disruptornya berupa wabah kesehatan yang sedemikian merusak tatanan pola hidup keseharian.

Namun, sesungguhnya di dalam teori perubahan kita memang mengenal dua jenis perubahan, yakni evolusi dan revolusi. Situs brainly.co.id menjelaskan bahwa evolusi merupakan perubahan sosial budaya yang terjadi secara perlahan-lahan. Perubahan ini merupakan perubahan yang tidak direncanakan. Ia “mengalir” saja. Bisa terpengaruh karena kondisi alam, kondisi sumber daya, pun penemuan-penemuan baru teknologi, dalam kecepatan waktu yang lambat. Maka kita bisa melihat perubahan evolutif baru terjadi dalam kurun waktu satu generasi biologi manusia atau bahkan lebih.

Revolusi sangat berbeda. Ia berlangsung dalam waktu yang cepat dengan bentuk perubahan yang sangat menonjol. Ia bisa merupakan tuntutan zaman yang tidak direncanakan, tapi lebih banyak terjadi karena tuntutan perubahan yang terencana. Perubahan prinsip hidup suatu generasi misalnya. Kecepatan penemuan teknologi dan sosialisasi kebaruan yang berjalan sangat mudah ke seluruh penjuru dunia memicu perubahan yang cepat ini.

Pola perubahan ke arah apa yang kita sebut dengan “new normal” sekarang ini termasuk dalam konteks revolusi. Bahkan “revolusi yang dipercepat”. Disrupsi yang terakselerasi tanpa perencanaan. Lupakan teori konspirasi yang mengatakan bahwa pandemi ini adalah kesengajaan. Karena yang pasti, pandemi sudah terjadi, dan rasanya tak ada satu pun negara di dunia ini yang tak terkena imbasnya.

Maka sekali lagi, tak elok rasanya jika kita tidak semakin menyadari bahwa perubahan demi perubahan akan terjadi semakin cepat di masa mendatang ini. Cibiran, sikap sombong, dan bahkan antipati terhadap warning disrupsi rasanya tak boleh lagi kita miliki. Ia pasti datang dengan kecenderungan yang lebih cepat di umur dunia yang semakin matang ini. Yang siap akan bertahan, yang tak siap akan tertawan. Yang luwes akan juara, yang kaku akan merana.

Jadilah generasi yang siap. Pelaku kehidupan yang luwes. Menyitir kata pakar perubahan Rhenald Kasali, sebisa mungkin jadilah driver (yang mengarahkan dan memimpin perubahan), jangan sekadar menjadi passenger (penumpang perubahan yang berubah karena dipaksa keadaan). Bawa masa depan ke masa sekarang (berpikiran maju sebagai dasar melakukan perubahan), dan bukan membawa masa lalu ke masa sekarang.

Karena sekali lagi: perubahan itu abadi. Dan, semakin cepat terjadi.

*Fajar S Pramono
Peminat Tema Sosial Ekonomi, Alumnus UNS Surakarta