Pasien Covid-19 Meningkat, Rumah Sakit di Tangsel Perketat Standar Pelayanan

Sejumlah rumah sakit di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kian memperketat standar pelayanan protokol kesehatan. Hal itu dilakukan menyusul jumlah kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data terakhir Gugus Tugas Covid-19 Kota Tangsel pada Rabu 17 Juni 2020, tercatat total pasien positif mencapai 372 orang. Rinciannya, 155 pasien masih dirawat dengan penambahan 2 pasien baru dalam sehari, 169 pasien sembuh, dan 33 pasien meninggal dunia.

“Pasien positif yang menjalani perawatan bertambah 2 orang Rabu kemarin, sehingga jumlah yang masih dirawat ada 155 pasien,” ujar juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Tangsel, Tulus Muladiyono.

Dari penjelasan Dinas Kesehatan Kota Tangsel sebelumnya, terdapat beberapa rumah sakit swasta yang telah bekerja sama menangani pasien Covid-19. Di antaranya Rumah Sakit Sari Asih Ciputat, Rumah Sakit Premiere Bintaro.

Selain itu, Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro, Rumah Sakit Eka Hospital. Lalu Rumah Sakit Medika BSD, Rumah Sakit OMNI Internasional Alam Sutera, Rumah Sakit Bhineka Bakti Husada, dan RSU Kota Tangsel.

Sebagai fasilitas kesehatan milik pemerintah, RSU Kota Tangsel sendiri telah mewajibkan penerapan protokol kesehatan. Di luar itu, telah disiapkan pula ruangan di lantai 4 bagi pasien dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan terkonfirmasi positif Covid-19.

Ruangan itu dipastikan steril bagi segala kegiatan tenaga medis, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran bagi pasien umum lainnya yang ingin datang berobat ke RSU Tangsel.

“Untuk tempat, kita sudah ada di lantai 4 dengan daya tampung sebanyak 18 pasien. Jadi mulai 19 Mei 2020, RSU sudah mulai menerima pasien Covid-19. Kalau yang dirawat di sini semua PDP positif. Sudah dewasa semua, ada 9 pasien,” terang Kepala Seksi Pelayanan Medis RSU Tangsel, Ronald Adrianto Sitindaon, ditemui di ruangannya.

Sebenarnya, seluruh rumah sakit yang ada sejak awal telah meningkatkan kewaspadaan penyebaran Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan. Hanya saja, upaya itu disesuaikan agar ketentuan tersebut tak justru membuat pasien menjadi tertekan psikologis.

“Screening di pintu masuk yang ketat. Jika ada gejala demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau riwayat perjalanan luar negeri akan diarahkan ke rumah skrining kami yang tersedia, jadi tidak bisa masuk ke rumah sakit,” kata Humas RS Mitra Keluarga Bintaro, Shinta, secara terpisah.

Pemisahan ruang pelayanan juga dilakukan antara pasien yang datang bergejala dengan pasien tanpa gejala. Pemisahan tak hanya diberikan bagi ruang poli dan ruang perawatan, melainkan juga pada ruang penindakan untuk operasi. “Prosedur kami untuk ruangan pasien bergejala dan tidak bergejala tetap harus kami disinfektan secara berkala,” tuturnya.

Hal serupa dilakukan oleh Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bina Medika Bintaro. Tak hanya pengetatan penerapan protokol kesehatan Covid-19. Tapi juga rumah sakit itu bahkan menggunakan konsep “Futuristic Hospital” demi menghilangkan rasa takut bagi pasien yang datang berobat.

“Sehingga akan memberikan rasa aman dan nyaman untuk ibu dan anak dalam melakukan pengobatan ke rumah sakit, serta juga menghilangkan kesan rasa takut untuk datang ke rumah sakit, merasa seperti di rumah sendiri,” kata Direktur RSIA Bina Medika Bintaro, Irma Rismayanty.

Rumah sakit itu baru resmi beroperasi pada Senin 8 Juni 2020. Konsep futuristic sengaja diusung, guna melindungi pasien dari penularan Covid-19. Di mana konsepnya meliputi sistem digitalisasi informasi yang terintegrasi antara calon pasien dan rumah sakit, sehingga tak terjadi penumpukan di rumah sakit. “Di masa Covid seperti ini, maka kami memberikan pelayanan terbaik di semua tahapan usia, bagi wanita dan anak,” jelasnya.