Pelonggaran PSBB di Tangsel, Restoran dan Kafe Mulai Diizinkan Dine In

Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap 4 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), disertai dengan pelonggaran di restoran dan kafe.

Pelonggaran itu berupa kebijakan memperbolehkan restoran dan kafe menggelar dine in atau makan di tempat. Pada pelaksanaan PSBB sebelumnya, jenis usaha itu hanya diizinkan melakukan transaksi take away atau membeli makanan lalu dibawa pulang.

“PSBB tahap ini memang ada salah satu pelonggarannya dari sisi ekonomi adalah, tempat restoran makan yang tadinya hanya boleh take away, sekarang boleh dine in,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel, Maya Mardiana,Rabu (3/6/2020).

Namun begitu, pelonggaran yang diberikan terhadap restoran dan kafe tetap disertai pembatasan sesuai protokol Covid-19. Misalnya, pembatasan kapasitas pembeli hanya 50 persen serta penyediaan sarana yang mendukung physical distancing.

“Tapi ada ketentuannya, 50 persen dari kapasitas. Nanti di Perwal (Peraturan Wali Kota Nomor 19 tahun 2020)-nya itu akan bunyi. Kemudian juga protokol Covid-19 yang dijalankan. Jadi nanti kalau ada penegakan atau apapun, itu terhadap protokol Covid-nya, baik itu konsumen, baik itu pengelola, baik itu karyawan,” jelas Maya.

Upaya pelonggaran itu dimaksudkan guna memersiapkan tahapan menuju new normal. Sehingga semua pengelola tempat usaha ataupun konsumen sama-sama sadar untuk menerapkan protokol kesehatan di manapun berada.

“Jadi sekarang semua, di manapun, ini kan lagi persiapan ya. Syukur-syukur nanti kalau sudah di bawah 1 (R nought) kita bisa new normal, kita sudah siap. Kita sendiri sudah terbiasa dengan new normal, dengan menjaga jaraknya, dengan yang lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, pengelola kawasan terpadu pusat perbelanjaan di Pamulang menyambut positif pelonggaran yang diberikan pemerintahan Airin. Disebutkan, selama ini pendapatan mereka anjlok imbas merebaknya Covid-19.

“Selama ini keluhan para pemilik usaha semacam restoran dan makanan siap saji seperti itu ya, pendapatannya jauh berkurang. Dengan pelonggaran ini, artinya perlahan kondisi itu mulai normal kembali,” ucap Chief Operasional Pamulang Square, Eru Cipta, dikonfirmasi terpisah.

Dijelaskan Eru, kawasan Pamulang Square sebelumnya memiliki sekira 400-an tenant dari berbagai jenis usaha. Dari penjual pakaian, makanan, restoran, counter handphone, hingga toko swalayan. Namun kini, sekira 25 persennya memutuskan hengkang tak memerpanjang sewa tempat.

“Ada 100-an tenant atau 25 persen yang akhirnya tak perpanjang sewa. Karena itu tadi, mereka pendapatan berkurang drastis. Kami selaku pengelola kawasan usaha seperti ini berharap, pemerintah memerluas pelonggaran itu. Jadi tak hanya bagi restoran dan cafe,” tuturnya.

Menurut Eru, sejumlah keringanan telah diberikan kepada pedagang penyewa tenant di kawasan Pamulang Square. Di antaranya adalah diskon biaya sewa antara 25 persen hingga 40 persen dari rata-rata sebesar Rp3 jutaan per bulan. Upaya itu dikatakannya akan efektif, jika dibarengi pula dengan kebijakan pemerintah memberikan pelonggaran.