Sejarah Istilah Kurban Beserta Hukumnya Menurut Syariat Islam

Umat Islam Indonesia memperingati hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1443 Hijriah/2022 Masehi. Di dalam Idul Adha ada amalan yang sangat dianjurkan yakni menyembelih hewan kurban. Ada beberapa hal terkait kurban (qurban) yang penting diketahui kaum Muslimin.

Dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua Komisi Fatwa dan Hukum MUI Tanah Datar Sumatera Barat Ustadz Yendri Junaidi Lc MA menjelaskan bahwa di antara persoalan tersebut adalah istilah kurban.

Sejarah Istilah Kurban

Sebenarnya istilah kurban atau qurban kurang tepat untuk menyebut ibadah penyembelihan di hari Idul Adha. Istilah yang benar sesungguhnya adalah udhhiyyah (اْلأُضْحِيَّة), idhhiyyah (الْإِضْحِيَّة), atau dhahiyyah (الضَّحِيَّة). Secara bahasa, ketiga kata ini memiliki arti yang sama yaitu kambing yang disembelih di waktu dhuha atau di pagi hari Idul Adha.

Adapun secara istilah, udhhiyyah berarti:

مَا يُذَكَّى تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى فِي أَيَّامِ النَّحْرِ بِشَرَائِطَ مَخْصُوْصَةٍ

“Binatang yang disembelih di hari-hari An-Nahr (qurban) untuk ber-taqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan syarat-syarat tertentu.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwait, jilid 5, halaman 74)

Sementara istilah qurban (dalam bahasa Arab: القُرْبَان ) sesungguhnya memiliki arti yang jauh lebih umum dibanding istilah udhhiyyah (yang sudah telanjur diartikan ‘qurban’ dalam bahasa Indonesia).

Secara bahasa, qurban berarti segala sesuatu yang dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa ta’ala, baik berupa sembelihan atau ibadah-ibadah lainnya (ia semakna dengan taqarrub التَّقَرُّب ).

Jika qurban (pendekatan diri pada Allah Subhanahu wa ta’ala) yang dilakukan itu berupa sembelihan, maka dalam hal ini dia sama persis dengan udhiyyah. Tapi jika qurban yang dilakukan tidak berbentuk penyembelihan berarti dia berbeda dengan udhiyyah.

Jadi makna qurban sesungguhnya lebih umum dan lebih luas daripada udhiyyah. Namun karena sudah menjadi istilah yang umum dipakai maka kita ikuti saja.

Hukum Berkurban

Ibadah qurban hukumnya sunnah muakkadah. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Juga hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Barra bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ، لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan di hari ini (Idul Adha) adalah sholat. Kemudian kita pulang lalu kita menyembelih kurban. Siapa yang melakukan seperti ini berarti dia telah mengamalkan sunah kita. Tapi siapa yang telah menyembelih sebelum sholat berarti itu hanya daging biasa yang diberikannya pada keluarganya, tidak termasuk kategori ibadah kurban sedikit pun.” (HR Bukhari nomor 5545)

Sekilas ayat dan hadis tersebut bisa saja dipahami sebagai dalil untuk kewajiban melakukan kurban. Tapi oleh mayoritas para ulama, nash ayat dan hadis tersebut tidak dipahami secara zhahir (tekstual). Sebab, ada hadis lain yang menjelaskan bahwa ibadah kurban hanya untuk siapa yang mau saja. Seperti hadis:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ ذَبْحٌ يُرِيْدُ أَنْ يَذْبَحَهُ فَرَأَى هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّي

“Siapa yang punya hewan sembelihan yang ingin dia sembelih, lalu dia melihat hilal Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikit pun sampai dia berkurban.”

Para ulama Syafiiyyah mengatakan ibadah kurban termasuk kategori sunnah kifayah untuk satu keluarga. Artinya, jika sudah dilakukan oleh satu orang dalam satu keluarga maka tuntutan untuk berkurban terhadap anggota keluarga lainnya menjadi gugur.

Imam Ar-Rafi’i mengatakan:

الشَّاةُ الْوَاحِدَةُ لاَ يُضَحَّى بِهَا إِلاَّ عَنْ وَاحِدٍ لَكِنْ إِذَا ضَحَّى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ تَأْتِى الشِّعَارُ وَالسُّنَّةُ لِجَمِيْعِهِمْ

“Seekor kambing hanya boleh untuk kurban satu orang. Tapi jika salah seorang anggota keluarga sudah berkurban maka syiar dan sunah ibadah kurban telah mencakup seluruh anggota keluarga lainnya.”

Ibadah lain yang juga masuk dalam kategori sunnah kifayah adalah memulai mengucapkan salam, menjawab orang yang bersin, dan sebagainya. Dalil yang menunjukkan bahwa ibadah kurban ini termasuk sunnah kifayah adalah hadis:

ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ قَالَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

“Nabi Shallallahu alaihi wassallam berurban dengan dua ekor kibasy dan beliau berdoa: Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Juga hadis dari Abu Ayyub al-Anshari, dia berkata:

كُنَّا نُضَحِّي بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ يَذْبَحُهَا الرَّجُلُ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ بَعْدُ فَصَارَتْ مُبَاهَاةً

“Kami biasanya berkurban satu ekor kambing saja. Kambing disembelih oleh kepala rumah tangga, untuk dirinya dan juga untuk keluarganya. Tapi kemudian manusia berbangga-bangga sehingga ibadah ini menjadi seperti perlombaan.” (HR Malik dalam kitab Muwaththa’, dan dihukumi shahih oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’)

Allahu a’lam bisshawab.