Soroti Keberadaan Polling Bacalon Kepala Daerah Tangsel, Dodi Prasetya Khawatir Ada Pembentukan Opini Secara Paksa

Aktivis Muda Kota Tangerang Selatan Dodi Prasetya Azhari mengaku khawatir dengan keberadaan hasil polling dukungan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang saat ini ramai di media online dan media sosial.

Dodi begitu ia disapa menilai, hasil poling akan ini berimbas kepada pembentukan opini publik secara paksa dan cenderung menghasilkan pemilih yang cenderung ikut-ikutan atau bandwagon effect.

“Karena bila bandwagon effect ini dominan maka ada kekhawatiran hasil dari proses pilkada kota Tangerang Selatan ke depan bukanlah hasil yang baik atau dibutuhkan oleh masyarakat tangsel itu sendiri” jelas Dodi.

Dodi menjelaskan , polling di media sosial sangat tidak mencerminkan proporsional pemilih lantaran tidak mewakili distribusi pemilih di Kota Tangsel. Tidak hanya itu, polling juga tidak mempresentasikan berdasarkan jenis kelamin dan usia.

“Kemudian polling di media sosial tidak mewakili populasi masyarakat kota tangsel. Sebab tidak teridentifikasinya usia, KTP dan jenis kelamin, dan pemilik akun tidak bisa di jamin 100 persen pemilih Kota Tangerang Selatan,” ungkapnya.

“Para kandidat atau tim yang menjadi subyek polling cenderung menggerakkan dan membagikan link polling di media sosial ke orang- orang yang pasti mendukungnya. Sehingga bisa terlihat yang unggul adalah yang paling rajin membagikan link tersebut,” sambung Dodi.

Menurut Dodi, meski metode hasilnya menunjukkan banyak ketidaktepatan, jajak pendapat tetap diperlukan. Bahkan, setiap pasangan calon kepala daerah wajib memiliki hasil jajak pendapat.

Dodi mengatakan, sejak awal tahun 2020, traffic polling dukungan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan lewat media online mulai ramai di jagat maya.

“Akan tetapi, hasilnya hanya untuk kebutuhan internal, memperkuat kinerja tim sukses, bukan untuk dibagikan ke publik demi mempengaruhi pemilih dan suara,” tandas Dodi.