Suara Solidaritas Sosial dari Bintaro Design District

AWAL 2020 ini di Indonesia disambut dengan tragedi Banjir di tiga provinsi yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Di Tanah Air juga terjadi krisis Natuna, klaim sepihak negara China terhadap kepulauandi laut China Selatan, yang merupakan wilayah zona eksklusif ekonomi NKRI.

Sementara itu, dalam konteks global, dunia kembali membuka kotak pandoranya: ancaman perang berskala masif yang akan merembet keseluruh pelosok jagad, yang bermula dari krisis di Timur Tengah yang dipicu oleh Amerika Serikat yang mengirimkan rudalnya ke Irak dan membunuh seorang Jenderal Iran.

Kemungkinan besar periostiwa ini berdampak pada resesi ekonomi dunia. Sedangkan banjir (di Dubai, Jakarta, Tel Aviv) juga kebakaran di Australia sebagian dampak dari pemanasan global dari anomali musim selain akibat kesembronoantangan-tangan para penguasa politik serta warga bangsa yang tak menjaga lingkungan alam.

Manusialah semata-mata yang wajib bertanggung jawab. Kita kembali menoleh ke dalam diri: masihkah ada kesempatan berbuat sesuatu?

Buku laris dunia berjudul Sapiens, The Brief History of Human Kind (2011), dari sejarawan Yoval Noah Harari, dengan nada skeptis dalam 500 lebih halaman bukunya mengakhiri prediksi tentang akhir paradaban Homo Sapiens, sang manusia, karena karakter narsisnya dan keserakahan diri dalam puncak ilmunya: sains dan teknologi, yang justru kelak memusnahkan rasnya sendiri.

Sayup-sayup, di area Bintaro, Jakarta Selatan akhir 2019 lalu ada pesan optimistik dari kalangan pekerja kreatif, arsitek, seni dan para desainer. Mereka, akhir November sampai awal Desember lalu menyeru tentang perlunya kita bergandeng-tangan, berpikir inklusif dan berbuat simpatik pada sesama dan alam.

Ajang peristiwa Bintaro Design District 2019 (BDD 2019) yang memasuki tahun ke-2 ini, mengusung tema Inclusivity. Diartikan secara cair adalah keterbukaan untuk berperan, sebagai semacam kemungkinan untuk berbagi, mengembalikan fitrah para pekerja kreatif yang lebih manusiawi.

Inklusivitas, kata dalam bahasa Indonesia bisa ditafsirkan sebagai kehendak untuk merangkul yang tak mampu, yang lemah dalam segala aspek kehidupan.

“Mereka para pelaku usaha kecil di sekitar kita, kemudian yang cacat secara fisik, teralienasi secara struktural di masyarakat, yang mungkin kurang mengenal pentingnya desain yang lebih baik. Maka, sudah semestinya tugas kita, para desainer, adalah untuk meningkatkan sensitivitas lingkungan sekitar dengan memperkenalkan, bahkan memformulasikan solusi desain pun prinsip-prinsip mutual kolaboratif yang memberi nilai lebih pada kehidupan sosial “ ujar salah seorang kurator, Budi Pradono, dari BPA architect.

Kata-kata Budi tersebut, memberi visi desain yang membumi. Desain adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, lewat kerja-kerja kolaboratif yang responsif terhadap lingkungan, seperti kondisi taman-taman, jembatan, gardu jaga, warung-warung, penjahit tradisional, pasar, tanda-tanda kota, atau street furniture yang memerlukan sentuhan desain atau bentuk dan metoda lain untuk bisa berbagi nilai-nilai bersama.

Diffable, Warkop sampai Motor Anti Kebakaran
Ajang BBD 2019 di Bintaro memberi warna lain, tatkala melibatkan instalasi bagi kaum diffable dari Studio Arsitektropis. Instalasi dibangun di sebuah lahan sekolah oleh Yayasan Sayap Ibu, Serge Ferrari, Sandei Blinds yang memampukan anak-anak bersekolah dengan fasilitas untuk mereka yang cacat fisik.

Penempatan gerbang di fasilitas ini, ditata sedemikian rupa menggambarkan program ruang yang dibutuhkan oleh anak-anak penyandang cacat, terutama terkait dengan standar ukuran kelas dan akses yang menghubungkan kelas dan toilet terdapat semacam partisi dengan bentuk melengkung, dengan maksud tiap sudut ruangan memiliki bentuk melengkung pula, mengurangi risiko anak-anak cacat yang terluka karena sudut tajam.

Di lokasi tertentu, ada permainan tentang warna, mewakili emosi dan ekspresi anak-anak dalam menjalani kehidupan lebih natural, membelajarkan sejak dini relasi antara anak-anak, alam dan masyarakat.

Taman Kota dan Kepedulian Arsitek
Sementara itu, ruang publik terbuka, taman-taman kota adalah ruang bersama, yang mempertemukan yang lemah dan yang kuat dari beragam aspek tentang kondisi terkini ruang urban. Sebuah area yang dihasratkan untuk meminimalisir perebutan ruang-ruang kultural dan kekuatan politik-ekonomi dalam pertarungan sengit atas siapa yang paling berkuasa atas tempat dan hunian di kota-kota besar.

Taman-taman kota menjadi wilayah “sakral”, untuk memampukan saling menyapa dan saling mengulurkan tangan. Tanda-tanda inklusifitas, seperti yang digagas oleh ajang BDD 2019 dipertaruhkan di sana.

Puluhan instalasi dibangun dan puluhan lainnya secara permanen disiapkan untuk diakuisisi pemerintah lokal untuk memberikan fasilitas yang lebih lengkap bagi pengunjung di sejumlah taman dari sektor 2 sampai 9 Bintaro diajang BDD 2019 ini.

*Bambang Asrini Widjanarko
Kurator Seni