Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah?

Di bulan Ramadan kita sering mendengar sebuah perkataan yang diucapkan oleh kerabat-kerabat kita, teman-teman kita, bahkan dai di lingkungan kita, yang mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa merupakan suatu ibadah. Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang berbunyi:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang sedang berpuasa merupakan ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya adalah doa yang mustajab, dan amalannya dilipatgandakan.”

Sungguh kabar yang sangat menggembirakan bagi kita semua, amat sangat mudah mendapatkan pahala di bulan ini. Namun ternyata, hadis tersebut merupakan hadis yang lemah, jadi tidak dapat digunakan sebagai dasar dalam beribadah.

Apalagi dengan penyampaian yang seperti itu, kita sering dapati orang-orang akhirnya bermalas-malasan. Mereka lebih menyukai tidur daripada melakukan amalan-amalan lain, karena termotivasi dengan hal ini.

Lalu, bagaimana kita menyikapi hadis ini?

Walapun hadis yang baru kita sebutkan merupakan hadis yang lemah, ternyata muatannya dapat kita tarik ke arah makna yang benar. Para ulama terdahulu sering menjelaskan suatu kaidah bahwa amalan seperti makan, tidur, bekerja dan amalan lain yang statusnya mubah, dapat bernilai pahala atau ibadah jika diniatkan untuk melakukan ibadah.

Sebagaimana Imam Nawawi Rahimahullah menjelaskan dalam surah muslim

“Sesungguhnya perbuatan mubah jika dimaksudkan dengan-Nya, untuk mengharapkan rida Allah SWT, maka Ia akan merubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan, ganjaran darinya.”

Jadi, tidurnya orang yang berpuasa dapat memenuhi ibadah, jika dilakukan dengan niat seperti itu. Ibnu Rajab pun menerangkan hal yang sama dalam Mutha’iful ma’arif, jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan salat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai ibadah.

Begitu juga jika tidurnya di siang hari, diniatkan agar ia dapat melaksanakan banyak ibadah di malam hari, maka seperti inilah tidur yang bernilai ibadah. Intinya, semua tergantung pada niatnya.

Jika niat tidurnya hanya bermalas-malasan, sehingga tidurnya bisa seharian dari pagi hingga sore, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun, jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan salat malam dan melakukan amalan lainnya, maka tidur yang seperti ini Insya Allah akan dinilai sebagai ibadah.

Oleh Ustaz Muhammad Fatih (Corps Dai Dompet Dhuafa)